3 hal yang terabaikan di keluarga saya

Alhamdulillah bahtera kehidupan keluarga baru beranjak dua tahun. Saya menikah di 17 September 2017. Sudah dikaruniai seorang putri.

Tak ada yang sempurna yang dijalani oleh pembelajar ini. Sejak kata ‘sah’ terdengar dari para saksi. Dalam menjalani amanah ini butuh banyak nasehat dan perenungan.

Sengaja saya tulis ini sebagai catatan. Karena 3 poin ini adalah bagian inti dalam berkeluarga.. Sayangnya, sempat saya abaikan.

Menyamakan visi dan misi hidup.

Saya dengan istri memiliki background berbeda. Karakter berbeda, jenis kelamin berbeda 😀

Dulu saya berasumsi bahwa visi kami sama. Sehingga tak perlu mendeklarasikan dengan jelas, “Kenapa harus menikah dengan saya? Setelah menikah mau apa dan kemana..”

Ini menjadi penting disaat masalah, ujian, dan godaan datang menghampiri.

Misalnya kekurangan finansial, hutang menumpuk. Hijrah ke tempat lain karena pekerjaan dan pendidikan, atau harus LDR untuk sementara waktu.

Karena bisa jadi pasangan kita tidak siap menerima risiko dari keputusan kita.

Mengenai visi, itu ibarat gambaran di kepala. Tapi belum dituangkan di atas kanvas.

Menyamakan visi itu menceritakan gambarannya. Harus ditransfer, digambarkan di kepala penerima.

Si penerima harus tergambar jelas di kepalanya. Jika gambar itu mulai memudar, kita harus mengingatkan.

Misalnya sebagai keluarga muslim pada umumnya, saya membuat visi sebagai Keluarga yang mengharap Ridha Allah, mendapatkan cinta dari Nabi ﷺ dan menciptakan kebahagiaan ‘fiddunya wal akhirah’.

Visi ini tak bisa diwujudkan jika banyak berleha-leha, mengejar kesenangan semu. tak diisi dengan ilmu.

Jika kita menyatakan keluarga kita adalah pecinta Nabi ﷺ . Namun minum air masih pakai tangan kiri sambil berdiri. Mulut sering keluar kata dan nada yang melekitkan hati.

Beli barang masih pakai harga teman. Setiap dimintai sumbangan, dibalasnya dengan ‘Senyuman juga jadi sedekah’. Demikian itu sudah jauh dari risalah Nabi ﷺ.

Salah satu menggapai Ridha Allah SWT adalah dengan…

“…اِنۡ تَنۡصُرُوا اللّٰہَ یَنۡصُرۡکُمۡ وَ یُثَبِّتۡ اَقۡدَامَکُمۡ…”

“Jika mau menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Para ulama menafsirkan menolong agama Allah adalah mengagungkan Allah dengan cara mematuhi perintahnya, mensyiarkan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Dalam konteks keluarga, kita tanamkan kepada keluarga terkait adab, ilmu, amal dan dakwah. Penuhi dan hiasi berkeluarga dengan syariat Islam. Insyaallah, Allah pun senantiasa menolong hambanya, melapangkan setiap urusan.

Penggambaran visi ini yang terlewatkan di keluarga saya. Terlewatkan untuk menyampaikan. Terlewatkan untuk memastikan visi ini sudah sama. Sepele memang. Tapi harus disampaikan.

Karena enyamaan visi ini menjadi komitmen nantinya. Dalam membangun dan mendidik keluarga harus fokus, terprogram, terencana dan terukur.

Jika terdapat hal yang tak sesuai dengan nilai keislaman, langsung tidak dibolehkan dan diganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Adanya visi, secara otomatis akan mengurangi hal yang sia-sia, hal yang tak penting.

Adapun misi adalah cara untuk membentuk gambar dikanvas, tools dan warna apa saja yang dipakai untuk membentuk gambar di kanvas.

Bisa beda-beda tiap orang, tergantung posisi dan skillnya.

Misalnya seorang kepala keluarga sekaligus tulang punggung keluarga, wajib memastikan yang dikonsumsi keluarga adalah harta halalan tayyiban.

Seorang ibu juga berperan sebagai pendamping dan pendidik di rumah, memastikan yang ditonton dan ditiru oleh anak-anak adalah yang diridhai Allah taala.

Dengan visi, kita menyatukan pikiran. Karena misi, kita bekerja sama.

 

Selalu komunikasi

Bangun komunikasi yang positif dan menenangkan. Termasuk saat mengambil keputusan, seringnya saya putuskan dulu. Tanpa membicarakan lebih dalam dengan pasangan.

Karena dalam pikiran, bisa jadi istri tidak mengerti. Jadi mending tidak usah dibicarakan dulu.

Mungkin akan mudah ia pahami saat moment itu tiba, ia ikut merasakan.

Karena persepsi ini, sering kali miskomunikasi antara kami berdua. muncul praduga yang tak mengenakkan. Sehingga komunikasi antara kami terkesan pasif. Terutama dalam hal perencanaan dan risiko.

Sebenarnya ada yang yang baik untuk disampaikan, ada juga yang tidak perlu. Jika mendatangkan kebaikan, lebih baik dikomunikasikan.

Misalnya tentang lingkungan pekerjaan, atau ada sebuah peristiwa, kita cerita saja sedikit poin apa yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Komunikasi hal-hal kecil dalam mengelola leluarga, hingga yang paling penting, hutang piutang dan wasiat. Kudu disampaikan.

Yang perlu dihindari adalah membawa kabar rumah tangga orang lain dalam keluarga kita.

Mulai dari membicarakan perabot rumahnya, mobil yang dipakai, privasi orang. Apalagi kekurangan dan aib. Na’uzubillah.

Kecuali untuk menolong dan mengambil pelajaran. Itu pun harus sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Tanpa disadari, mudah saja membicarakan rumah tangga orang lain.

Dulu Siti Aisyah ra, menceritakan rasul begini dan begitu tentang siti Shafiyah (bermaksud merendahkan karena rasa cemburu dengan madunya).

Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh kata-katamu jika dicampuri dengan lautan, maka akan berubah semua warnanya.“

Dari redaksi lain, “Sungguh dirimu telah mengucapkan sebuah kalimat yang sekiranya dihapus dengan air laut tidak akan sanggup menghapusnya.”

Pernah juga suatu ketika siti Aisyah ra. Menceritakan seseorang di hadapan rasul ﷺ . Lalu beliau menjawab

قال: ما أحب أني حكيت إنسانا وأن لي كذا وكذا.

Aku tidak suka aku menceritakan tentang orang lain pada diriku begini dan begitu.” (HR. Abu Dawud no. 4875 dan at-Tirmidzi no. 2520).

Jadi, lebih baik banyak komunikasinya tentang introspeksi diri dan keluarga kita dengan ilmu.

Fastabiqul khairat, internal competition.

Saya merasa level khidmat saya dalam keluarga baru sebatas menyelesaikan kewajiban.

Karena diluar kewajiban mengurusi keluarga, sebagai lelaki banyak kewajiban yang lain.

Tersadar poin ini terlewatkan saat menonton video di channelnya Faldo Maldini: Nikah Gak Menghalangi Cita-cita.

Salah satu motivasi Refi Adriade -yang diwawancarai faldo, adalah fastabiqul Khairat, kompetisi internal. Antara ia dengan istri.

Saat istrinya mampu menyelesaikan S2 di luar negeri, ia juga ingin menyelesaikannya.

Istri merutinkan Dhuha, tahajjud, tilawah, dan kebaikan yang lain. Maka amalan istri adalah pemicu untuknya.

Ada hal yang diingatkan suami oleh istrinya, suami juga  saling mengingatkan untuk istri.

Pun sebaliknya, saat ia banyak aktivitas yang menginspirasi orang. Istrinya mencoba memantaskan.

Ternyata memantaskan itu bukan hanya sebelum nikah. setelah nikah sebenarnya jauh lebih penting. Banyak yang lupa perkara ini, termasuk saya.

Takutnya setelah nikah bisa jadi mulai jalan dengan pemikiran masing-masing. Padahal salah satu tujuan berkeluarga adalah saling support dan saling menjaga.

“Mereka (para istri) pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…” (QS. Al Baqarah : 187 ) 

Termasuk yang perlu dilombakan dengan pasangan adalah saling pengertian dan siapa yang paling romantis. Mau coba?


 

Mudah-mudah Allah memelihara rumah tangga kita. Menjadi keluarga Sakinah Mawaddah warahmah, dan langgeng hingga ke Surga. Amiin.

Sebenarnya saya sudah melakukan secuil dari ketiga poin ini. Namun mulai memudar. Dan poin itu terus kita butuhkan dan ingatkan selama membangun rumah tangga, hingga akhir hayat.

Maka dari itu, Saya tuliskan ini sebagai pengingat pribadi.

 

Kautsar, 17 September 2019

 

Siapa Yang Takut

Duduk dengan ulama selalu memberi titik terang bagi jiwa. Kegelisahan saya adalah bagaimana cara berdakwah kepada orang bebal. Yang tak merasa salah dengan kesalahannya, serta bangga dan hebat dengan satu kebaikannnya.

Tanpa sempat saya bertanya, Abi lampisang malam itu membahas tentang apa yang ditakutkan dan apa yang dibanggakan.

Jika kita membaca sejarah, atau menelaah sebuah konflik. Selalu mengulang pola yang sama. Siapa yang pemberani, dan siapa yang panik atau takut.

Yang kita lihat era sekarang, penjahat perang selalu bekerja lebih ekstra. Memperlihatkan bahwa mereka bermental juara. Dengan mudahnya mereka merampok harta orang lain, mencaplok wilayah, menjajah negara dari berbagai sisi.

Apa yang sebenarnya terjadi..

Padahal umat Islam punya sejarah agung. Jumlah sedikit mampu mengalahkan pasukan besar. Kemenangan mulai badar, hingga pembebasan wilayah di zaman kekhalifahan. Jumlah kecil menumbangkan kerajaan besar.

Hakikat yang sebenarnya terjadi, Allah telah berfirman

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً

Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (QS.al-Isra :81)

Abi lampisang menjelaskan bahwa Allah telah menanamkan rasa takut di hati mereka, para pembuat kebatilan.

Sejatinya para pezalim takut dengan yang berbuat adil. Kebatilan takut dengan kebenaran. Munafik takut dengan orang mukmin. Maling akan takut dengan pemilik rumah.

Jika maling, munafik, orang batil, dan pezalim tak memiliki rasa takut, mengapa mereka harus bekerja dalam kesembunyian, menyimpan rahasia, dan mengatur siasat.

Jadi, Cara kerja mereka adalah paranoid, hasil dari kepanikan. Mereka bekerja lebih ekstra, memasang tampang seolah-olah mereka lah yang jawara. Padahal terpendam rasa ketakutan.

Lalu, kita sendiri mengapa keadaan sekarang seolah berbalik. Tuan rumah yang takut maling.

Alasan yang pertama, mungkin kita kehilangan rasa takut kepada Allah, mulai takut kehilangan harta dan popularitas.

Lalu kurang bangga dengan keimanan. Kebanggaan iman tercermin dari keistiqamahan dalam beramal.

Bisa jadi kita tak merawat hubungan kita dengan Allah. Kurang berzikir dan muhasabah. Doa seadanya, mulut mengucap doa.. hati dan pikiran jalan-jalan. Seperti para pemabuk. Pikiran dan ucapan tidak sinkron.

Kemenangan para sahabat dan umat setelahnya bukan pada jumlah. Tapi karena kualitas iman, Allah menolong para hambaNya, dan menanam rasa takut di pihak musuh.

“Sami’na wa ata’na.” Adalah ungkapan para sahabat karena keimanan dan Ketakutan pada Allah.

Alasan yang kedua, mungkin Kita enggan berada di jalan yang benar. Menganggap jalan ini kurang bonafit. Atau merasa sendirian disini.

Padahal Allah telah berjanji

“…اِنۡ تَنۡصُرُوا اللّٰہَ یَنۡصُرۡکُمۡ وَ یُثَبِّتۡ اَقۡدَامَکُمۡ…”

“Jika mau menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Alasan ketiga, Tidak disiplin.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra mengatakan,
“Kezaliman yang tersusun rapi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak rapi.”

Disiplin adalah termasuk dalam katagori ini.
Tak perlu bercerita tentang pasukan besar, instropeksi diri saja dulu. Shalat sering entar dulu aja. Saat ada orang yang rajin dan gercep, kita ejekin. Pragmatis dalam beragama, bekerja seadanya.

Saat masalah datang, kebablakan jadinya.

Jika 3 poin ini masih ada. Wajar sikap ketakutan berbalik arah. kita tidak pelihara iman, dan jauh dari Allah.

Semoga Allah SWT memberkahi kita semua.

Pijakan Yang Kuat

“Jika berjuang, berdirilah atas pijakan yang kuat.

– Abi lampisang

Masa dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Setiap penekanan dan ancaman dari Kafir Quraisy, beliau belum bisa berbuat banyak.

Pijakan yang kuat, baru beliau dapat saat hijrah ke madinah. Yaitu Baiat kesetiaan dari golongan Anshar, Beliau menyatukan bani Aus dan Khazraj. Serta bahu membahu membangun peradaban dengan golongan muhajirin.

Sudahkah menentukan, dibidang apa perjuanganmu. Seberapa kuat keinginanmu?

Sudahkah dipersiapkan dengan ilmu?

Lalu mulailah mencari dukungan sebagai tempat pijakan yang kuat.

“…اِنۡ تَنۡصُرُوا اللّٰہَ یَنۡصُرۡکُمۡ وَ یُثَبِّتۡ اَقۡدَامَکُمۡ…”

Jika mau menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

(QS. Muhammad: 7)

Selamat Tahun baru hijriah 1441H

Jazakallahu kair.

Dr. M itu pemalu

Perdana Menteri Malaysia saat ini -Dr Mahathir Muhammad, biasa disapa Dr. M, adalah seorang pemimpin negara paling tua saat ini. Usianya sudah 94 tahun.

Memilih bekerja 18 jam sehari di sisa-sisa usianya, untuk membuat perubahan di Malaysia. Saya merasa gagal menjadi anak muda.

Sudah punya banyak pengalaman dan keberhasilan, masih mau bekerja dengan kerjaan yang tak ringan di usianya.

Baru-baru ini saja Najwa Shihab mewawancarai beliau. Pertanyaan yang paling saya sukai disitu adalah pertanyaan terakhir ‘Apa yang tidak diketahui orang tentang Dr.M.’

Beliau mengungkapkan, bahwa merasa malu jika tampil di halayak ramai, tak nyaman dihadapan publik.

Namun karena ini tugas. Menjadi kewajiban juga figur politik untuk tampil di publik. Maka harus menjalani itu. Berada di luar zona nyaman. Wow..

Kiprahnya di dunia politik sudah lebih 70 tahun. Selama itu juga beliau melawan zona nyamannya.

Menjadi renungan bagi saya pribadi. Hingga saat ini masih menggunakan dalih tak mau bekerja di bidang tertentu karena tak sesuai dengan passion. Padahal malas keluar dari zona nyaman.

Sering memang, dalam beberapa kasus.. Jika dibicarakan saat itu masalah mungkin selesai dan tak berlarut-larut. Tapi ada saja sisi yang berbisik ‘Nanti saja, di WA saja kan bisa’.

Karena menganggap Introvert, seseorang tak mau mengutarakan langsung saat itu, padahal itu adalah waktu yang tepat.

Dan orang extrovert tak mau menahan emosinya. Karena ia ingin orang lain memahami bahwa ia ekstrovert. Padahal kondisi sudah kacau karena lisannya.

Mungkin sesekali perlu menantang diri. Untuk keluar dari kutukan intelektualitas kita.

Membuang tipe ABCD diri. Untuk menyelesaikan tanggung jawab masing-masing.

Belajar Menghargai

Bagaimana cara menghargai selembar uang seribu rupiah.

Kalau membeli barang seharga dua ribu, selembar seribuan tidak akan cukup. Butuh dua lembar seribu, baru dapat barangnya.

Seribuan baru bernilai dengan membeli barang seharga 500. Seribu dapat dua.


Photo by 
Niels Steeman on Unsplash

Bagaimana cara menghargai seseorang?

Yaitu membalasnya dengan kebaikan melebihi kebaikan yang pernah dibuat. Sehingga orang tersebut mendapatkan banyak kebaikan, lalu melakukan kebaikan-kebaikan berikutnya.

Dan hakikatnya kebaikan kita akan dibalas oleh Allah berkali-kali lebih banyak dari yang pernah kita perbuat.

So, Adakah kita membalas lebih terhadap kebaikan orang lain?

Semoga Kebaikan kita tidak ikut inflasi..

Nama Sebagai Pengingat

Biasanya, nama untuk anak menjadi doa bagi orang tua. Dan saya harus berterima kasih kepada orang tua saya atas nama indah yang telah diberikan. Teuku Muhammad Alkautsar.

Untuk panggilan, di rumah, lingkungan keluarga, sahabat, orang baru kenal, saya dipanggil kautsar.

Setelah saya cek, nama Al Kautsar disematkan karena saya dilahirkan di hari tasyrik 13 Zulhijjah 1413 H.

Berarti saat itu masih dalam suasana hari raya Qurban. Dimana hampir diseluruh podium mesjid, menyampaikan tafsir dan pelajaran dari surat yang terdiri dari 3 ayat ini.

Pada khutbah jumat kemarin sebelum idul Adha, oleh Abi Daud Hasbi –Pimpinan Dayah Jeumala Amal, khatib menyampaikan surat ini dari angle yang berbeda.

Khusus pada tafsir dari kata ‘Alkautsar’ para ulama menjelaskan bahwa terdapat 3 tafsiran. Bisa bermakna tiga-tiganya atau pun salah satu di antara tiga itu.

Yang pertama adalah nikmat yang banyak, yaitu Allah telah melimpahkan nikmat keislaman dan keimanan, kenabian, Al Quran, kemakbulan doa, nikmat dirinya untuk umat serta banyak sekali kepada Rasulullah.

Yang kedua adalah nahrun, sungai. Yaitu sungai yang mengalir di dalam surga. Salah satu keindahan surga yang diceritakan di dalam Al Quran adalah sungai ini. Melewati setiap istana Ahli Surga, mengalir dibawahnya.

Yang ketiga adalah Haudhun, telaga. Yaitu telaga yang berada di padang Mahsyar. Mata air yang berasal dari sungai dalam Surga. Dengan warna, rasa, dan kesegaran yang sama.

Di telaga ini Rasulullah menunggu umat yang kelelahan mencarinya selama puluhan ribu tahun. Meminumkan satu per satu. Dan barang siapa yang telah minum air tersebut. Tidak akan haus selama-lamanya.

Sebagaimana kita tahu dalam AlQuran. 1 hari di akhirat durasinya sama dengan 1000 tahun di dunia.


وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

(QS. Al Hajj: 47).

Di padang mahsyar nanti kita memiliki panjang perjalanan. Perjalanan mencari Syafaat dari mulai dari Nabi Adam as, memakan waktu ribuan tahun.

Tidak ada di Nabi Adam lalu mencari pada Nabi Nuh as. Memakan waktu ribuan tahun. Hingga menemui Nabi Muhammad Saw memakan waktu puluhan ribu tahun.

Dari sana berangkat lagi menerima catatan amal, lalu berangkat lagi ke timbangan. Masing-masing memakan ribuan tahun.

Diantara panjang nya perjalanan, panasnya diatas karena sangat dekatnya matahari, panasnya dibawah karena pasir yang terbakar. Allah menjadikan hewan yang diqurban di dunia sebagai kendaraannya. Kemarin sudah pada berqurban toh?

Alhamdulillah jika sudah. Jika belum mari kita berlelah lelah di dunia, menabung, agar bisa berqurban. Rasulullah saw berqurban setiap tahun.

Sehingga, nama saya menjadi pengingat akan dua hal: Pertama, kehadiran kita adalah hamba pencari syafaatnya rasulullah, agar bisa minum telaga kautsar langsung dari Rasul.

Kedua, Belajarlah untuk memperbanyak manfaat, layaknya Alkautsar bagi Rasulullah, dan layaknya Alkautsar bagi ummatnya.

Puasa Sosial Media

Saya rasa sudah cukup mata ini menatap layar kaca. Kekuatan mata lebih tua dari usianya. Silindris dan Minusnya bertambah.

Waktu banyak tersita sia-sia. harusnya bisa lebih banyak bersama keluarga, ikut pengajian dan beramal.

Belum lagi tentang isu, konten, berita, dan komentar yang tak sehat lagi untuk dikonsumsi. Distraksi satu berita dengan berita yang lain, dapat melemahkan daya konsentrasi. Kalau kata para ikhwan, ’syubhatnya sudah kebangetan.’

So, saya memutuskan untuk menjauh dari sosial media.

Terinspirasi oleh mas Fikry Fatullah, CEO kirim.email. Beliau membuat riset seberapa banyak waktu terbuang hanya gara-gara gadget. Dan sesuai dengan hipotesisnya, dua pertiga waktunya sia-sia hanya karena gadget. Sudah tak wajar dan melampaui batas.

Untuk mengatasinya, beliau menghapus semua aplikasi yang tidak perlu. Membuat tampilan hapenya, seperti hape baru. Tidak ada apps macam-macam. Meng-uninstall semua apps yang tidak dipakai. Yang tersisa hanya apps bawaan yang tidak bisa diapa-apain dan aplikasi yang sedang dipakai saat itu.

Saran darinya, untuk membuat candu itu hilang. Buatlah jadi membosankan. Dengan tampilan dan fitur jelek, otomatis dibuat malas pemakainya.

Insight Yang kedua saya dapatkan dari channel Youtube nya Presenter Marrisa Anita: On Marrisa’s Mind, Puasa Sosial Media

Ia membuat metode, puasa dari sosial media. Artinya, pengguna akan beristirahat dari sosial media pada waktu yang kita tentukan. Setelah metode tersebut berhasil, banyak waktu ia manfaatkan untuk belajar dan pengembangan diri.

Saya pun mencoba menggabungkan kedua metode mereka. Ibarat berpuasa yang sesungguhnya. Ada waktu niat dan mempersiapkan puasa, puasa tersebut berlangsung, dan berbuka.

Saat persiapan pastikan sosial media dihapus semua. Yang tinggal hanya keperluan pribadi, Telepon, SMS, jam dan catatan; keperluan kantor yang dipakai dalam hari itu, Email dan WA (jika bisa, WA yang tak ada story nya); serta apps bawaan yang tak bisa dihapus.

Saat berpuasa berlangsung, akan ada godaan besar datang yang bisa membatalkannya. Puasa di minggu pertama akan terasa gatal pengen buka ini itu. Ingin update-an dari yang pernah akun yg kita follow. Ingin menghabiskan story yang ada.

Tugas kita, Menahan rasa itu. muncul lagi keinginan, macam ada nafsunya. Tahan lagi.

Disinilah saya isi dengan kegiatan yang bermanfaat. Saya mengalihkan dengan membaca buku. Melatih menulis, Merutinkan tilawah, dan ajak berbicara orang sekitar, dan menghabiskan waktu dengan keluarga.

Demikian pula seterusnya hingga terasa waktu saya sangat berguna dan bermanfaat.

Metode ini saya anggap berhasil, jika sudah mencapai titik dimana saya bisa mengendalikan kapan buka gadget, kapan tidak. Bukan dikendalikan olehnya.

Lalu, berbukanya kapan?

Buka puasa cukup karena dua hal. Pertama, pada saat berbagi ilmu, sharing informasi yang penting dan bermanfaat.

Agar lebih efektif dalam sharing informasi, persiapkan kontennya terlebih dulu, Lalu download aplikasinya, baru posting.

Jika lebih dulu download apps tapi belum menyiapkan konten, Anda akan kembali tenggelam dengan sosmed tersebut. Apalagi sudah lama tidak buka. Bisa lebih liar dari sebelumnya.

Pesan untuk pembuat konten, luang waktu khusus untuk memposting. Misalnya waktu publish atau upload dikhususkan sabtu sore. Maka kontennya sudah dipersiapkan di hari sebelumnya.

Sediakan waktu juga untuk membalas komentar audience, atau hanya sekedar menyapa selama dua jam. Siapkan waktu juga untuk tracking dan promosi konten, agar konten tersebut sampai pada segmennya. Disiplin dalam mengatur waktu disini sangat penting.

Berbuka yang kedua, gunakan internet seperti zaman dulu, buka hanya saat perlu. Anda butuh materi atau referensi, buka browsing, lalu salin di buku atau salin di word. Tutup kembali.

Penggunaan sosial media selebihnya, saya anggap tidak penting.

Harapan metode ini diterapkan adalah saya dan keluarga, terhindar dari kecanduan gadget.

Saat steve Jobs pertama kali launching iPhone, Ia mengatakan, “It isn’t tool, it is you.” Perusahaan lain pun berlomba-lomba membuat produk yang menjiwai seperti itu.

Menurut saya, gadget itu sama dengan nafsu, selalu nagih dan candu. Butuh mujahadah, proses melawan dan menjinakkan, untuk mengendalikannya. Bukan dikendalikan olehnya.

Dengan begini, saya lebih menikmati dan mensyukuri dunia yang sesungguhnya, untuk akhirat.

Saya juga ingin menanam kepada anak-anak. Gadget iu bukan mainan apalagi tontonan, itu hanya alat untuk bekerja.

Di tengah era yang selalu terkoneksi kemana-mana, kita butuh koneksi terpusat, koneksi khusus antara dirimu dan Pencipta mu.

Jika ada Notifikasi, atau teman minta membuka sosmed, katakan saja.. “Inni Saaimun. Saya sedang berpuasa.”

Mau coba?

Semua Ucapan

Jika,

Semua ucapan kita, keseriusan, guyonan, kata-kata dari luapan emosi, pembicaraan saat ketenangan.. semua kata dan ucapan di sepanjang hidup. kita buatkan tulisan. 

Maukah tulisan itu dibaca oleh semua orang? Jangankan dibaca, ketahuan ada yang menulis seperti itu saja, kita resah. Karena Diri kita banyak aib dan khilaf.

Kenyataannya, 

Semua kata-kata yang keluar dari mulut kita sudah ada yang mencatat. setiap kelakuan ada rekam jejaknya. 

Ada saatnya, semua itu akan dipertontonkan. Dan diminta pertanggungjawaban.

Selama ini kita sudah memperlihatkan yang baik-baik di publik, merasa kita baik, dan berada di lingkungan yang baik.

Ternyata, di hari kebangkitan, orang di sekeliling mengambil catatannya dengan tangan kanan. Dan sayangnya kita mengambil dengan tangan kiri. 

Kita sadar itu kiri, tetapi saat berusaha dengan kanan. Tetap juga kiri yang bergerak.

Semoga kita terlindungi dari hinaan di hari akhirat. 

Pasar Seperti Mushalla

Satu alasan kuat saya hijrah pekerjaan dan domisili adalah ingin membangun bisnis ideal yang pernah diucapkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra:

Pasar orang-orang Islam seperti mushalla bagi orang Shalat”


Photo by Aneta Pawlik on Unsplash 

Sebelumnya, orientasi saya selama dua tahun ini adalah belajar dan mengajar. Tinggal di Pondok Pesantren. Mengabdi sebagai pengajar di sana.

Nasihat habib Umar Alhafidz, dalam salah satu bagian bukunya, mulai mengubah orientasi saya.

Seperti maksud perkataan Sayyidina Ali ra. diatas, Habib Umar bin Muhammad bin Salim Al Hafidz menjelaskan, dulu pasar bisa mencetak keuntungan dua kali.

Pertama, keuntungan dari hasil perniagaan. Dan yang kedua adalah tempat belajar dan menerapkan ilmu syariah.

Berdagang dengan jujur dan adil, mengucapkan salam saat berjumpa orang-orang. Membantu orang kesulitan yang kita jumpai di jalan, Memindahkan sampah dan duri penghalang jalan. Hingga membantu orang-orang mencari barang di pasar. Aktivitas ini yang mencetak amalan untuk akhirat, dan menebar kebaikan di pasar. 

***

Kali ini, saya benar-benar terjun ke riil bisnis konvensional, perdagangan. Membuat laporan keuangan kompleks, ngurus SDM dengan berbagai kondisi. Penjualan barang dan jasa sekaligus.

Menjadi manager di Penjualan Sepeda Motor Yahama adalah Sebuah tantangan pengembangan diri, dan ujian dalam mengemban amanah. 

Pekerjaan dulu, jobdesknya menjadi menjadi operator dan admin. Menjaga konektivitas sistem agar selalu siap bekerja.

Tantangan sekarang adalah menjaga tim yang bekerja agar ON hatinya untuk Allah, produktivitasnya tetap oke, dan kebahagiaannya juga meningkat.

Ada rekomendasi buku untuk dibaca? Share kemari ya

Bismillah, semoga istiqamah.


TAK PERCAYA PASSION

Pernahkah nggak merasa, mengapa sih mudah lelah dalam mencapai target.
Sementara ada orang, energinya kayak nggak pernah habis untuk melakukan yang bermanfaat. Apa yang ingin ia targetkan, alhamdulillah bisa digapai, meskipun butuh waktu.

Istilah Follow Your passion seringnya tak mudah diterapkan. Ada yang nasehatin, kenapa tak mudah diterapkan, itu redaksinya salah. Karena yang benarnya adalah build your passion.

Saya yang berusia 25 ini, sudah beranak satu, masih susah menemukan dalam hidup saya, yang mana di bagian hidup saya disebut passion. Karena passion itu terkesan hanya istilah di seminar-seminar.

Sebuah pandangan baru yang saya dapatkan dari buku Grant Cardone, Be Obsessed or be average. Seseorang harus terobsesi, mau jadi apa, kemudian mau berbuat apa. jika tidak hanya jadi orang rata-rata.

Misalnya Anda Terobsesi ingin jadi seorang penulis, maka Anda harus konsisten menulis, tulisan Anda harus ada suatu nilai yang selalu ingin disampaikan.

Obsesi yang Anda punya harus dirawat tetap fokus, dan dipelihara agar membesar layaknya monster. Grant Cardone menyebutnya ‘Monster Obsesi’. Sebaik-baik obsesi adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Merubahnya menjadi besar dan kuat, dibutuhkan asupan bergizi, yang penting bagi pertumbuhan. Ini perlu dicari, asupan mana saja yang berguna, dan asupan mana yang berisi racun.

Seorang penulis, tulisannya dibaca, setelahnya mendapatkan feedback positif dari pembaca, ternyata asupan untuknya agar menulis lagi.

Berkumpul dengan komunitas, disana bisa berkolaborasi dengan penulis lain, sekaligus bersaing secara sehat, kemudian mendapat ilmu baru. juga jadi asupan.

Lalu para pembaca, menghargai tulisannya dengan cara membeli karyanya. atau dishare karyanya ke halayak ramai. ini pun menjadi asupan langsung.

Yang Perlu dihindari adalah hal-hal yang sebelumnya kita kira asupan, ternyata mengandung racun.

Contohnya feedback dari orang yang tidak suka dengan tulisan kita. Kita tidak usah menawari tulisan kita lagi, karena tanggapannya tidak akan membangun.

Menurut saya, obsesi ini lebih realistis dibanding passion.

Dan jawaban mengapa ada orang macam tak habis energinya saat beraktifitas. karena ia punya obsesi yang bermanfaat. aktifitasnya menjadi asupannya sekaligus.