Test

Hallo

Belajar Menghargai

Bagaimana cara menghargai selembar uang seribu rupiah.

Kalau membeli barang seharga dua ribu, selembar seribuan tidak akan cukup. Butuh dua lembar seribu, baru dapat barangnya.

Seribuan baru bernilai dengan membeli barang seharga 500. Seribu dapat dua.


Photo by 
Niels Steeman on Unsplash

Bagaimana cara menghargai seseorang?

Yaitu membalasnya dengan kebaikan melebihi kebaikan yang pernah dibuat. Sehingga orang tersebut mendapatkan banyak kebaikan, lalu melakukan kebaikan-kebaikan berikutnya.

Dan hakikatnya kebaikan kita akan dibalas oleh Allah berkali-kali lebih banyak dari yang pernah kita perbuat.

So, Adakah kita membalas lebih terhadap kebaikan orang lain?

Semoga Kebaikan kita tidak ikut inflasi..

Nama Sebagai Pengingat

Biasanya, nama untuk anak menjadi doa bagi orang tua. Dan saya harus berterima kasih kepada orang tua saya atas nama indah yang telah diberikan. Teuku Muhammad Alkautsar.

Untuk panggilan, di rumah, lingkungan keluarga, sahabat, orang baru kenal, saya dipanggil kautsar.

Setelah saya cek, nama Al Kautsar disematkan karena saya dilahirkan di hari tasyrik 13 Zulhijjah 1413 H.

Berarti saat itu masih dalam suasana hari raya Qurban. Dimana hampir diseluruh podium mesjid, menyampaikan tafsir dan pelajaran dari surat yang terdiri dari 3 ayat ini.

Pada khutbah jumat kemarin sebelum idul Adha, oleh Abi Daud Hasbi –Pimpinan Dayah Jeumala Amal, khatib menyampaikan surat ini dari angle yang berbeda.

Khusus pada tafsir dari kata ‘Alkautsar’ para ulama menjelaskan bahwa terdapat 3 tafsiran. Bisa bermakna tiga-tiganya atau pun salah satu di antara tiga itu.

Yang pertama adalah nikmat yang banyak, yaitu Allah telah melimpahkan nikmat keislaman dan keimanan, kenabian, Al Quran, kemakbulan doa, nikmat dirinya untuk umat serta banyak sekali kepada Rasulullah.

Yang kedua adalah nahrun, sungai. Yaitu sungai yang mengalir di dalam surga. Salah satu keindahan surga yang diceritakan di dalam Al Quran adalah sungai ini. Melewati setiap istana Ahli Surga, mengalir dibawahnya.

Yang ketiga adalah Haudhun, telaga. Yaitu telaga yang berada di padang Mahsyar. Mata air yang berasal dari sungai dalam Surga. Dengan warna, rasa, dan kesegaran yang sama.

Di telaga ini Rasulullah menunggu umat yang kelelahan mencarinya selama puluhan ribu tahun. Meminumkan satu per satu. Dan barang siapa yang telah minum air tersebut. Tidak akan haus selama-lamanya.

Sebagaimana kita tahu dalam AlQuran. 1 hari di akhirat durasinya sama dengan 1000 tahun di dunia.


وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

(QS. Al Hajj: 47).

Di padang mahsyar nanti kita memiliki panjang perjalanan. Perjalanan mencari Syafaat dari mulai dari Nabi Adam as, memakan waktu ribuan tahun.

Tidak ada di Nabi Adam lalu mencari pada Nabi Nuh as. Memakan waktu ribuan tahun. Hingga menemui Nabi Muhammad Saw memakan waktu puluhan ribu tahun.

Dari sana berangkat lagi menerima catatan amal, lalu berangkat lagi ke timbangan. Masing-masing memakan ribuan tahun.

Diantara panjang nya perjalanan, panasnya diatas karena sangat dekatnya matahari, panasnya dibawah karena pasir yang terbakar. Allah menjadikan hewan yang diqurban di dunia sebagai kendaraannya. Kemarin sudah pada berqurban toh?

Alhamdulillah jika sudah. Jika belum mari kita berlelah lelah di dunia, menabung, agar bisa berqurban. Rasulullah saw berqurban setiap tahun.

Sehingga, nama saya menjadi pengingat akan dua hal: Pertama, kehadiran kita adalah hamba pencari syafaatnya rasulullah, agar bisa minum telaga kautsar langsung dari Rasul.

Kedua, Belajarlah untuk memperbanyak manfaat, layaknya Alkautsar bagi Rasulullah, dan layaknya Alkautsar bagi ummatnya.

Puasa Sosial Media

Saya rasa sudah cukup mata ini menatap layar kaca. Kekuatan mata lebih tua dari usianya. Silindris dan Minusnya bertambah.

Waktu banyak tersita sia-sia. harusnya bisa lebih banyak bersama keluarga, ikut pengajian dan beramal.

Belum lagi tentang isu, konten, berita, dan komentar yang tak sehat lagi untuk dikonsumsi. Distraksi satu berita dengan berita yang lain, dapat melemahkan daya konsentrasi. Kalau kata para ikhwan, ’syubhatnya sudah kebangetan.’

So, saya memutuskan untuk menjauh dari sosial media.

Terinspirasi oleh mas Fikry Fatullah, CEO kirim.email. Beliau membuat riset seberapa banyak waktu terbuang hanya gara-gara gadget. Dan sesuai dengan hipotesisnya, dua pertiga waktunya sia-sia hanya karena gadget. Sudah tak wajar dan melampaui batas.

Untuk mengatasinya, beliau menghapus semua aplikasi yang tidak perlu. Membuat tampilan hapenya, seperti hape baru. Tidak ada apps macam-macam. Meng-uninstall semua apps yang tidak dipakai. Yang tersisa hanya apps bawaan yang tidak bisa diapa-apain dan aplikasi yang sedang dipakai saat itu.

Saran darinya, untuk membuat candu itu hilang. Buatlah jadi membosankan. Dengan tampilan dan fitur jelek, otomatis dibuat malas pemakainya.

Insight Yang kedua saya dapatkan dari channel Youtube nya Presenter Marrisa Anita: On Marrisa’s Mind, Puasa Sosial Media

Ia membuat metode, puasa dari sosial media. Artinya, pengguna akan beristirahat dari sosial media pada waktu yang kita tentukan. Setelah metode tersebut berhasil, banyak waktu ia manfaatkan untuk belajar dan pengembangan diri.

Saya pun mencoba menggabungkan kedua metode mereka. Ibarat berpuasa yang sesungguhnya. Ada waktu niat dan mempersiapkan puasa, puasa tersebut berlangsung, dan berbuka.

Saat persiapan pastikan sosial media dihapus semua. Yang tinggal hanya keperluan pribadi, Telepon, SMS, jam dan catatan; keperluan kantor yang dipakai dalam hari itu, Email dan WA (jika bisa, WA yang tak ada story nya); serta apps bawaan yang tak bisa dihapus.

Saat berpuasa berlangsung, akan ada godaan besar datang yang bisa membatalkannya. Puasa di minggu pertama akan terasa gatal pengen buka ini itu. Ingin update-an dari yang pernah akun yg kita follow. Ingin menghabiskan story yang ada.

Tugas kita, Menahan rasa itu. muncul lagi keinginan, macam ada nafsunya. Tahan lagi.

Disinilah saya isi dengan kegiatan yang bermanfaat. Saya mengalihkan dengan membaca buku. Melatih menulis, Merutinkan tilawah, dan ajak berbicara orang sekitar, dan menghabiskan waktu dengan keluarga.

Demikian pula seterusnya hingga terasa waktu saya sangat berguna dan bermanfaat.

Metode ini saya anggap berhasil, jika sudah mencapai titik dimana saya bisa mengendalikan kapan buka gadget, kapan tidak. Bukan dikendalikan olehnya.

Lalu, berbukanya kapan?

Buka puasa cukup karena dua hal. Pertama, pada saat berbagi ilmu, sharing informasi yang penting dan bermanfaat.

Agar lebih efektif dalam sharing informasi, persiapkan kontennya terlebih dulu, Lalu download aplikasinya, baru posting.

Jika lebih dulu download apps tapi belum menyiapkan konten, Anda akan kembali tenggelam dengan sosmed tersebut. Apalagi sudah lama tidak buka. Bisa lebih liar dari sebelumnya.

Pesan untuk pembuat konten, luang waktu khusus untuk memposting. Misalnya waktu publish atau upload dikhususkan sabtu sore. Maka kontennya sudah dipersiapkan di hari sebelumnya.

Sediakan waktu juga untuk membalas komentar audience, atau hanya sekedar menyapa selama dua jam. Siapkan waktu juga untuk tracking dan promosi konten, agar konten tersebut sampai pada segmennya. Disiplin dalam mengatur waktu disini sangat penting.

Berbuka yang kedua, gunakan internet seperti zaman dulu, buka hanya saat perlu. Anda butuh materi atau referensi, buka browsing, lalu salin di buku atau salin di word. Tutup kembali.

Penggunaan sosial media selebihnya, saya anggap tidak penting.

Harapan metode ini diterapkan adalah saya dan keluarga, terhindar dari kecanduan gadget.

Saat steve Jobs pertama kali launching iPhone, Ia mengatakan, “It isn’t tool, it is you.” Perusahaan lain pun berlomba-lomba membuat produk yang menjiwai seperti itu.

Menurut saya, gadget itu sama dengan nafsu, selalu nagih dan candu. Butuh mujahadah, proses melawan dan menjinakkan, untuk mengendalikannya. Bukan dikendalikan olehnya.

Dengan begini, saya lebih menikmati dan mensyukuri dunia yang sesungguhnya, untuk akhirat.

Saya juga ingin menanam kepada anak-anak. Gadget iu bukan mainan apalagi tontonan, itu hanya alat untuk bekerja.

Di tengah era yang selalu terkoneksi kemana-mana, kita butuh koneksi terpusat, koneksi khusus antara dirimu dan Pencipta mu.

Jika ada Notifikasi, atau teman minta membuka sosmed, katakan saja.. “Inni Saaimun. Saya sedang berpuasa.”

Mau coba?

Semua Ucapan

Jika,

Semua ucapan kita, keseriusan, guyonan, kata-kata dari luapan emosi, pembicaraan saat ketenangan.. semua kata dan ucapan di sepanjang hidup. kita buatkan tulisan. 

Maukah tulisan itu dibaca oleh semua orang? Jangankan dibaca, ketahuan ada yang menulis seperti itu saja, kita resah. Karena Diri kita banyak aib dan khilaf.

Kenyataannya, 

Semua kata-kata yang keluar dari mulut kita sudah ada yang mencatat. setiap kelakuan ada rekam jejaknya. 

Ada saatnya, semua itu akan dipertontonkan. Dan diminta pertanggungjawaban.

Selama ini kita sudah memperlihatkan yang baik-baik di publik, merasa kita baik, dan berada di lingkungan yang baik.

Ternyata, di hari kebangkitan, orang di sekeliling mengambil catatannya dengan tangan kanan. Dan sayangnya kita mengambil dengan tangan kiri. 

Kita sadar itu kiri, tetapi saat berusaha dengan kanan. Tetap juga kiri yang bergerak.

Semoga kita terlindungi dari hinaan di hari akhirat. 

Pasar Seperti Mushalla

Satu alasan kuat saya hijrah pekerjaan dan domisili adalah ingin membangun bisnis ideal yang pernah diucapkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra:

Pasar orang-orang Islam seperti mushalla bagi orang Shalat”


Photo by Aneta Pawlik on Unsplash 

Sebelumnya, orientasi saya selama dua tahun ini adalah belajar dan mengajar. Tinggal di Pondok Pesantren. Mengabdi sebagai pengajar di sana.

Nasihat habib Umar Alhafidz, dalam salah satu bagian bukunya, mulai mengubah orientasi saya.

Seperti maksud perkataan Sayyidina Ali ra. diatas, Habib Umar bin Muhammad bin Salim Al Hafidz menjelaskan, dulu pasar bisa mencetak keuntungan dua kali.

Pertama, keuntungan dari hasil perniagaan. Dan yang kedua adalah tempat belajar dan menerapkan ilmu syariah.

Berdagang dengan jujur dan adil, mengucapkan salam saat berjumpa orang-orang. Membantu orang kesulitan yang kita jumpai di jalan, Memindahkan sampah dan duri penghalang jalan. Hingga membantu orang-orang mencari barang di pasar. Aktivitas ini yang mencetak amalan untuk akhirat, dan menebar kebaikan di pasar. 

***

Kali ini, saya benar-benar terjun ke riil bisnis konvensional, perdagangan. Membuat laporan keuangan kompleks, ngurus SDM dengan berbagai kondisi. Penjualan barang dan jasa sekaligus.

Menjadi manager di Penjualan Sepeda Motor Yahama adalah Sebuah tantangan pengembangan diri, dan ujian dalam mengemban amanah. 

Pekerjaan dulu, jobdesknya menjadi menjadi operator dan admin. Menjaga konektivitas sistem agar selalu siap bekerja.

Tantangan sekarang adalah menjaga tim yang bekerja agar ON hatinya untuk Allah, produktivitasnya tetap oke, dan kebahagiaannya juga meningkat.

Ada rekomendasi buku untuk dibaca? Share kemari ya

Bismillah, semoga istiqamah.


TAK PERCAYA PASSION

Pernahkah nggak merasa, mengapa sih mudah lelah dalam mencapai target.
Sementara ada orang, energinya kayak nggak pernah habis untuk melakukan yang bermanfaat. Apa yang ingin ia targetkan, alhamdulillah bisa digapai, meskipun butuh waktu.

Istilah Follow Your passion seringnya tak mudah diterapkan. Ada yang nasehatin, kenapa tak mudah diterapkan, itu redaksinya salah. Karena yang benarnya adalah build your passion.

Saya yang berusia 25 ini, sudah beranak satu, masih susah menemukan dalam hidup saya, yang mana di bagian hidup saya disebut passion. Karena passion itu terkesan hanya istilah di seminar-seminar.

Sebuah pandangan baru yang saya dapatkan dari buku Grant Cardone, Be Obsessed or be average. Seseorang harus terobsesi, mau jadi apa, kemudian mau berbuat apa. jika tidak hanya jadi orang rata-rata.

Misalnya Anda Terobsesi ingin jadi seorang penulis, maka Anda harus konsisten menulis, tulisan Anda harus ada suatu nilai yang selalu ingin disampaikan.

Obsesi yang Anda punya harus dirawat tetap fokus, dan dipelihara agar membesar layaknya monster. Grant Cardone menyebutnya ‘Monster Obsesi’. Sebaik-baik obsesi adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Merubahnya menjadi besar dan kuat, dibutuhkan asupan bergizi, yang penting bagi pertumbuhan. Ini perlu dicari, asupan mana saja yang berguna, dan asupan mana yang berisi racun.

Seorang penulis, tulisannya dibaca, setelahnya mendapatkan feedback positif dari pembaca, ternyata asupan untuknya agar menulis lagi.

Berkumpul dengan komunitas, disana bisa berkolaborasi dengan penulis lain, sekaligus bersaing secara sehat, kemudian mendapat ilmu baru. juga jadi asupan.

Lalu para pembaca, menghargai tulisannya dengan cara membeli karyanya. atau dishare karyanya ke halayak ramai. ini pun menjadi asupan langsung.

Yang Perlu dihindari adalah hal-hal yang sebelumnya kita kira asupan, ternyata mengandung racun.

Contohnya feedback dari orang yang tidak suka dengan tulisan kita. Kita tidak usah menawari tulisan kita lagi, karena tanggapannya tidak akan membangun.

Menurut saya, obsesi ini lebih realistis dibanding passion.

Dan jawaban mengapa ada orang macam tak habis energinya saat beraktifitas. karena ia punya obsesi yang bermanfaat. aktifitasnya menjadi asupannya sekaligus.

Tak Ada yang seumpama

Ruang, yang terbentang jauh tanpa diketahui dimana ujungnya. Disana terdapat bumi, bulan, matahari, bintang-bintang hingga gugus galaksi yang tergantung pada ruang. Tak ada cerita dan tak ada yang mengabarkan, dimana batas ruang ini.

Begitulah maha karya Allah, Sang Pencipta mampu mencipta sesuatu tanpa contoh sebelumnya. keberadaanNya tak butuh ruang ini. Qiyamuhu binafsih. berdiri dengan sendirinya, Independen. karena ruang adalah ciptaanNya.

Bagi Allah, sangat mudah memperlihatkan relativitas waktu pada perjalanan Isra Mi’raj Rasul. Allah memperlihatkan kecepatan buraq melebihi jutaan tahun perjalanan cahaya. Allah perlihatkan kejadian dimasa depan, keadaan dunia, surga, neraka, serta bertemu dengan para Nabi terdahulu.

Allah juga menunjukkan hebatnya perjalanan malaikat, tujuh puluh ribu tahun perjalanan hanya membutuhkan waktu sehari. Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Serta membuat kehidupan Akhirat abadi, kehidupan dunia hanya singgahan.

Ruang dan Waktu memperlihatkan betapa agungnya Allah. Dan hakikat keberadaan zat Allah tak membutuhkan kedua ini. Karena kedua ini adalah makhluk, hasil ciptaanNya. Kata Sayyidina Ali كرم الله وجهه, “Allah itu sudah ada sebelum ketiadaan ada.”

Demikian pula benda-benda pengisi alam ini. Para ahli Tauhid menyebutnya jism. Ia tersusun dengan bagian-bagian kecil seperti manusia memiliki kepala, tangan dan kaki. Seperti bumi yang memiliki tanah, air dan penghuni di dalamnya.

Wujud jism ini membutuhkan tempat, dan berada dalam rentetan waktu. Dan jism tersebut memiliki aktivitas layaknya diam, bergerak atau berubah. Juga menyertakan sifat-sifat yang menjadi hukum alam pada benda tersebut. Seperti panas, dingin, kuat, lemah dan sifat lain.

Contoh mudah jism, misalnya kopi. Kopi dimana, Kopi kapan, Rasanya? Dengan gampang menjawab.. Itu kopi pagi. Ada diatas meja, Sedikit pahit, sekarang sudah dingin.

Dan wujud zat Allah, suci dari yang perwujudan makhluk. Maka tak layak jika menyebutkan Allah berkaki, bertangan, dan berwajah. Karena secara otomatis akan menyerupai Zat-Nya yang suci dengan sesuatu yang ada di alam ini. Laisa kamistlihi syai-un, Allah tidak menyerupai akan sesuatu pun.

Allah juga bukan sifat. bukanlah kekuatan, bukan cahaya atau terang, bukan juga ketenangan atau kepintaran. Karena semua sifat pada benda adalah ciptaanNya. Kekuatan yang kita miliki adalah anugerah Allah. kepintaran, kebijaksanaan juga karena petunjuk dari Allah SWT.

Sifat makhluk selalu bergantung kepada-Nya. Hari ini kita merasa kuat. namun kuat itu hanya sementara. karena Allah yang menguatkan. Allah bersifat Maha Kuat, itu abadi. segala kekuatan datang dari Allah pemilik sekalian alam.

Lalu otak kita membayangkan tentang zat-Nya, apa yang kita temukan ketika membayangkan zat Allah?

Hitam, random, kosong. Imaginasi yang kita bayangkan, itu juga makhluk. Atau sesuatu yang berukuran datang ke kepala kita. seperti sesuatu yang besar kecil, luas sempit, tinggi pendek, banyak sedikit. itu juga makhluk.

Sungguh Allah suci dari khayalan dan Allah suci dari ukuran. Sehingga salah besar jika sesuatu yang dalam otak kita, terdapat bayangan, lalu kita yakini bahwa itu Allah.

Lalu yang bagaimana juga!!

Otak kita merasa kesulitan dalam memikirkannya.

Ini lah tanda betapa lemah dan fananya kita sebagai manusia, makhluk Allah. Karena memang tak mampu untuk dipikirkan. Memikirkan bagaimana kita tumbuh, fase hidup, serta memikirkan masalah-masalah saja sering tak mampu. Yang sudah diciptakan saja juga tak mampu. Apalagi tentang zat Allah.

Allah meminta kita untuk memikirkan ciptaanNya. Dan melarang memikirkan tentang zat Allah.

لَيْسَ كَمِثْـلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

(Allah SWT) tiada seperti seumpama ‘SESUATU’ apa pun dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

(QS. Asyuura: 11)

Dialah Allah yang bersifat Ahad. Segala hal di alam ini bergantung pada-Nya. Tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada yang setara denganNya.

Kira-kira, begitulah yang diajarkan oleh Syeikh Abu Hasan Al-Asy’ari Rahimahullah ta’ala, dalam kitab Aqidatun Najin susunan Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad Al-Fathani. serta Imam Al-Ghazali dalam bab tauhidnya.

Hati yang bercahaya

الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Begitulah kata Imam Al waki’, kepada muridnya Imam Syafii. Bahwa Ilmu itu Cahaya, cahaya itu tidak akan menerangi bagi orang bermaksiat.

Jika hati diibaratkan sebuah ruangan, dan ilmu adalah cahaya, ruangan yang dipenuhi cahaya berbeda kondisinya dengan ruangan yang dipenuhi barang-barang.

Ruangan yang sudah dipenuhi satu cahaya, masih bisa diterangi cahaya-cahaya lain. Misalnya cahaya sebelumnya adalah putih, kita bisa menerangi ruangan tersebut dengan cahaya hijau, merah, dan sebagainya. Seperti tanpa batas.

Sementara ruangan yang dipenuhi barang-barang. sifatnya terbatas. Jika hanya bisa memuat 100 karung beras, maka ruangan tersebut tidak bisa dipaksakan satu karung lagi. jika dibutuhkan harus tambah satu ruangan lagi.

Hati yang kotor dan penuh dosa, biasanya akan menimbulkan dua kemungkinan. Pertama dosa tersebut menutup cahaya untuk masuk. Kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, bahwa satu dosa itu menimbulkan satu titik hitam di hati. semakin banyak dosa semakin banyak titik hingga menutupi hati, bahkan hingga mengeraskan hati. Hidayah pun sulit masuk.

Dalam setiap perkara atau masalah, Allah menyertai hal yang menjerumus ke dosa dan Allah datangkan hidayah sekaligus. contoh kecil saat azan berkumandang, orang yang tertutupi hatinya cenderung mengungkapkan “Ah nanti saja Shalatnya.” sementara bagi hatinya yang penuh keimananakan menyambut panggilan ini.

Pun saat mengerjakan hal buruk, ada keraguan dan ketidaknyamanan dalam hati kita. Bisikan ‘jangan lakukan’ ini datang dari sisi Allah. Namun bisa jadi karena hati yang tertutup, cenderung mengabaikannya.

Kemungkinan yang kedua adalah dosa tersebut menjadi penyakit dan melekat di dalam hati. Saat cahaya memasuki ruang hati, yang terpantul adalah penyakit dan yang terkesan adalah keburukan oarng lain.

Sebuah contoh bagi diri kita masing-masing, saat baru belajar tentang hukum agama atau mendapat nasehat. jika kondisi hati yang kotor, penilaian hukum mudah sekali ditujukan untuk orang lain, mudah menghakimi. Dosa orang lain mudah terlihat. Sementara pribadinya merasa lebih suci karena lebih banyak tahu. Na’uzubillah. Padahal setiap nasehat, utamanya untuk diri sendiri terlebih dulu.

Imam Malik juga menasehati “Ilmu itu bukanlah banyaknya riwayat, melainkan cahaya yang diletakkan Allah dalam hati.

Manusia bisa melihat bukan sekedar karena dia punya mata, tapi juga karena adanya cahaya. Siapa pun bisa mendapatkannya, selama hati tidak tertutup. Cahaya itu bersifat menerangi. orang yang telah diterangi pun bisa berbagi cahayanya.

Belajar dengan Ahlul Yaman

اتاكم اهل اليمن، هم ارقّ قلوبا، الايمان يمان والفقه يمان والحكمة يمنية

Dari Abi Hurairah ra. Tatkala diturunkan surat AnNasr 1-2,

Rasulullah SAW bersabda,

Penduduk Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya. Iman itu ada pada yaman, fiqh ada pada yaman, serta hikmah ada pada Yaman. “

[HR. Imam Ahmad]

Hadist ini diutarakan Nabi SAW saat Abu Musa Al ‘Asyari dan kaumnya bergabung di Majelis Rasul. Abu Musa adalah seorang sahabat yang berasal dari Yaman.

Setelah Rasululllah wafat, Abu Musa Al Asyari adalah satu diantara tiga sahabat, jika ada suatu perkara umat, maka akan tuntas dihadapannya.

Bukan hanya sekali Nabi memuji ahlul Yaman. Baik seperti rombongan Abu Musa Al Asyari, Tufail bin Amru Ad Dausi dan Abu Hurairah, maupun yang datang belakangan ke madinah. Mereka memiliki ketekunan tinggi dalam mempelajari Islam dan Sunnah.

Saat perjalanan Nabi Antara Madinah Makkah, Nabi bersabda dihadapan Jubair bin Mu’thim dan sahabat yang lain.

“Hampir-hampir bangsa Yaman melebihi kalian. Mereka bak segumpal awan. Mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi.”

(HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Al-Baihaqi)

Di hadist lain, Rasulullah SAW juga bersabda,

Sesungguhnya akan datang kaum, yang kalian akan merasa minder jika membandingkan amalan kalian dengan amalan mereka“.

Apakah mereka kaum dari kaum Quraisy ya Rasulullah?” Tanya para Sahabat.

Bukan, mereka adalah penduduk Yaman.” (HR. Ibnu Abi Ashim)

Tak hanya itu, Nabi juga mendoakan negeri yaman,

اللهم بارك لنا في شامنا اللهم بارك لنا في يمننا

Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam kami. Ya Allah… berkahilah kami pada negeri Yaman kami” (HR. Bukhori dan Ahmad)

Bukan hanya di Dunia, di Akhirat pun Rasulullah mengistimewakan mereka. Dari sahabat Tsauban berkata, Rasulullah SAW bersabda,

Sesungguhnya kelak aku akan berada di samping telagaku. Kemudian Aku akan menghalangi orang-orang yang akan meminum dari telagaku, agar penduduk Yaman dapat meminumnya terlebih dahulu. Aku memukul dengan tongkatku, sehingga air telaga tersebut mengalir untuk mereka.” (HR. Muslim).

Setiap hadist-hadist ini, tentu tidak berlaku pada satu kurun waktu tertentu. Itu menjadi pedoman untuk masa selanjutnya. Keberkahannya ada di zaman fitnah ini. Keberkahan juga hadir hingga kejayaan islam nanti menjelang kiamat.

Alhamdulillah, kami di Banda Aceh masih diberikan kesempatan belajar banyak dengan Masyaikh dan habaib dari sana.

Kali ini kedatangan syaikh Samih AlKuhali dari Aden, Hadramaut, murid dari Habib Abu bakar Al Adni bin Ali Al Masyhur.

Isi materinya diterjemahkan oleh Habib Alwi Shahab dari Jakarta. Juga kedatangan Habibana Jindan bin Novel, pimpinan Al Fachriyyah, Tangerang. murid Habib Umar Al Hafidz.

Materinya terkait fenomena akhir zaman. Dimana pada zaman ini iblis mulai putus asa jika berharap manusia masuk neraka dengan cara sujud menyembahnya.

Namun iblis yang tak pernah diam, tidak pernah tidur dan tidak pernah lelah, maka tetap membuat manusia ke neraka, dengan cara mengadu domba, saling mencaci maki, saling membenci hingga bunuh membunuh.

Memahami perkara ini, dasarnya harus memahami haq dan bathil. Lalu fenomena dipandang dari kacamata pertengahan. Menimbang permasalahan secara adil. Melihat kondisi dari berbagai sudut pandang.

Saat syaitan memainkan propagandanya. Harusnya kita sadar, untuk terus mempertahankan ukhuwah.

Jika diantara muslim terdapat perbedaan. Saat yang sama pula kita perlu belajar menghubungkan simpul-simpul persamaan.

Jika mengambil perkataan Ustad Abdul Somad, terkait perkara-perkara yang berbeda, mari berlapang dada. Dalam persamaan, mari kita bekerja sama.

Dengan tujuannya berdakwah, menyeru lingkungan sekitar kita lebih dekat dengan Allah SAW dan mencintai UtusanNya.

Jazakallahu khairan.