Ardhuna Aqidatuna, Tanahku Aqidahku (part 1)

“أرضنا عقدتنا, Tanah kami adalah akidah kami,” Khutbah dari Ustad Masrul Aidi, Lc membuat saya kembali merenungkan, bahwa dakwah bukan hanya lisan. Namun terdapat dakwah seperti pembebasan tanah, air demi islam serta mempertahankannya adalah sebuah keniscayaan, kewajiban.

Saya kembali teringat kisah Sayyidina Ustman bin Affan ra. Tentang berperannya beliau dalam pembebasan sumur seorang Yahudi. Sumur Raumah.

Perlu dijelaskan bahwa perluasan wilayah umat muslim tidak menggunakan kata “menaklukkan”. karena kata itu identik dengan perampasan, pemaksaan.

Perluasan wilayah muslim menggunakan kata “fath” yang artinya pembebasan, yaitu membebaskan  suatu tempat dari kedzaliman dan kemusyrikan (seperti fathul Makkah, pembebasan kota makkah, fathul filastin, dsb).

Saat musim paceklik di Madinah, seluruh kawasan yang ditinggali umat muslim saat itu kesulitan air, untuk minum, berwudhu dan keperluan lain. Apalagi orang-orang muhajirin yang terbiasa dengan air berlimpahnya air zam-zam di Mekkah.

Satu-satunya sumber air saat itu yang bisa digunakan adalah sumur Raumah, sumur punya orang yahudi. Dimana setiap orang yang mau air tersebut terpaksa membeli dan mengantri.

Melihat kondisi umat yang memprihatinkan, Rasulullah pun bersabda

“Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala,” (HR. Muslim)

 

Saat Sayyidina Ustman mendengar kabar tentang sumur dan sabda nabi, ia pun bergegas menjumpai pemiliknya, Raumah. Meminta sumur itu untuk dijual kepadanya.

Sang pemilik tak mau menjual, meskipun sudah ditawari harga yang tinggi. Hingga akhirnya, Sayyidina Usman menawarkan solusi agar dijual setengah saja untuknya.

Dengan kesepakatan, sehari dipergunakan sayyidina Ustman, hari esok dipakai oleh raumah. demikian pula seterusnya. Setelah mempertimbangkan dan menganggap bisa untung dua kali. Yahudi tersebut menyepakatinya.

Saat giliran Usman, penduduk madinah dibolehkan mengambil air sebanyak-banyaknya secara gratis. mereka pun mengambilnya sekaligus untuk persediaan besok. Karena besok akan ganti pemilik.

Saat giliran Yahudi esoknya, tak ada penduduk yang datang. karena telah memiliki persediaan air.

Merasa rugi, akhirnya Yahudi tersebut datang kepada Usman, agar bersedia membeli separuhnya lagi.

Sayyidina Usman setuju. Dan dibayarkan seperti seperti harga sebelumnya, yaitu  20.000 dirham. Beliau mewakafkan sumur ini untuk kepentingan penduduk, bisa mengambil air secara gratis termasuk yahudi tersebut. Airnya pun masih dipergunakan hingga saat ini.

Seiiring berjalannya waktu, di sekitar Sumur ini banyak ditumbuhi pohon kurma dan terus bertambah jumlahnya.

Saat ini, jumlahnya mencapai ribuan dan dikelola oleh Kementerian Pertanian Arab saudi. Hasil dari pohon kurma ini dijual, dan disumbangkan kepada fakir miskin. Sebagian pendapatan disimpan dalam rekening bank atas nama Ustman bin Affan.

Uang simpanan di rekening tersebut juga digunakan untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel berbintang yang cukup besar di salah satu kawasan strategis dekat Masjid Nabawi. hotel ini pun diberi nama Ustman Bin Affan.

 

Berkah dari kedermawannya Ustman bin Affan, untuk kemaslahatan. Allah lipatgandakan sesuai firmanNya

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”. (QS.at-taghabun:17)

أرضنا عقدتنا
Tanah kami, akidah kami..

Bersambung…

Leave a Reply