Kisah Seorang pria melayu paruh baya, di Pulau Pinang Malaysia, mencurahkan keresahannya kepada sang ustad.

Ia merasa masyarakat melayu disana akan jadi minoritas di tanahnya sendiri. Seperti orang melayu di tanah Singapura.

Di tengah pembangunan daerah yang begitu megah, mereka seakan diusir dengan halus.

Harga tanah dan properti kian mahal. Sulit dijangkau oleh mereka. Mereka terpaksa pindah dan menyewa ke pinggiran kota. Saat Harganya naik lagi, mereka pindah lagi. Kian terpinggirkan.

Terkait pekerjaan, disana mensyaratkan hal-hal yang menyulitkan mereka. Fasih berbahasa Mandarin misalnya. Tentu berat bagi orang melayu.

Pria paruh baya ini bertekad etnis melayu tidak boleh pergi dari tanah kelahirannya. beliau akan bertahan bagaimana pun caranya.

Tujuannya agar orang yang datang tahu, bahwa tanah ini adalah tanah melayu, tanah orang muslim. Masih ada orang melayu hidup disini.

* * *

Islam sangat memperhatikan kehidupan bertetangga dan dengan siapa muslim itu hidup. Misalnya saat terjadi penjualan tanah. Penting untuk diketahui, kepada siapa tanah itu dijual.

Yang pertama sekali menawarkannya adalah untuk sanak saudara, jika tidak ada yang mau, maka untuk tetangga.

Jika dijual untuk umum, maka harus diperhatikan bagaimana sifat pembelinya.

Jangan sampai di kawasan muslim yang sudah terjaga lingkungannya. Dirusak oleh pihak yang baru datang dengan membangun tempat maksiat.  

Juga dikisahkan oleh ustad, pernah ada laporan dari jamaah di suatu lokasi. Jamaahnya memiliki tetangga baru yang membuat aktifitas aliran sesat.

Saat ditanya, “Bagaimana bisa di lokasi yang begitu terjaga, Bisa terjadi?”

Ternyata, tetangga baru itu sudah membeli dan memiliki tanah dan rumah di area itu. Dan kepemilikan adalah suatu yang dilindungi oleh hukum dan agama.

Siapa yang salah… Itu tidak akan terjadi jika pemilik sebelumnya menawarkan ke sanak saudara atau ke tetangganya, dan aparatur desa mensortir dalam pemberian izin.

Aparatur desa punya andil dalam bidang ini. Karena Sertifikat Jual beli tanah tidak akan ada jika pihak desa tidak menandatangani. Mereka memiliki kekuasaan dalam merawat dan mempertahankan aqidah.

Mempertahankan wilayah bukan berarti anti terhadap non-muslim. Saat di Madinah, Rasulullah SAW hidup berdampingan dengan yahudi dan nasrani.

Namun Rasulullah membuat perjanjian-perjanjian guna mengatur kepentingan bersama. tidak mengganggu dan tidak ada yang dirugikan. Dan negeri Madinah terus dalam kebaikan.

* * *

Kita perlu mendidik kita sendiri, membiasakan diri untuk mengajarkan anak, istri, dan cucu kita, bahwa warisan yang dijaga itu bukan hanya harta. Tapi lebih penting adalah warisannya Rasulullah, yaitu akidah dan keislamannya.

Kisah yang menarik saat kunjungan takziah salah satu rumah jamaah, orang tuanya meninggal, di Aceh Besar. Almarhum termasuk orang yang berhasil dalam mendidik anak.

Beliau meninggalkan harta kepada ahli waris. Salah satu aset yang nilainya tinggi adalah tanah berhektar dipinggir pantai.

Jika dinilai dari sisi bisnis, tanah ini sangat profit. dijadikan tempat wisata, semacam bungalow, restoran, dan sebagainya untuk menikmati suasana pantai.

Beberapa pihak telah datang kepada anak tertuanya. meminta membeli tanah agar dijadikan objek wisata. Sang anak tidak mau menjual. Pun ada yang untuk minta kerjasama.  

Anaknya tetap pendiriannya dengan memegang wasiat ayah, “Tanah itu dikelola oleh keluarga dan jadikan wisata islami.”

Saat ini, Wisata tersebut diperuntukkan wisata keluarga, tidak untuk pasangan muda-mudi berpacaran, atau sekedar foto prewedding. Alhamdulillah banyak keberkahan yang didapat.


Sudah terpikirkah apa saja yang perlu dibebaskan dan yang perlu dipertahankan di lingkungan kita?

Kisah-kisah di atas, saya ambil dari ceramah Ust. Masrul Aidi, Lc, saat safari dakwah beliau.

postingan lainnnya
  Ardhuna Aqidatuna Part 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *