Belajar dengan Ahlul Yaman

اتاكم اهل اليمن، هم ارقّ قلوبا، الايمان يمان والفقه يمان والحكمة يمنية

Dari Abi Hurairah ra. Tatkala diturunkan surat AnNasr 1-2,

Rasulullah SAW bersabda,

Penduduk Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya. Iman itu ada pada yaman, fiqh ada pada yaman, serta hikmah ada pada Yaman. “

[HR. Imam Ahmad]

Hadist ini diutarakan Nabi SAW saat Abu Musa Al ‘Asyari dan kaumnya bergabung di Majelis Rasul. Abu Musa adalah seorang sahabat yang berasal dari Yaman.

Setelah Rasululllah wafat, Abu Musa Al Asyari adalah satu diantara tiga sahabat, jika ada suatu perkara umat, maka akan tuntas dihadapannya.

Bukan hanya sekali Nabi memuji ahlul Yaman. Baik seperti rombongan Abu Musa Al Asyari, Tufail bin Amru Ad Dausi dan Abu Hurairah, maupun yang datang belakangan ke madinah. Mereka memiliki ketekunan tinggi dalam mempelajari Islam dan Sunnah.

Saat perjalanan Nabi Antara Madinah Makkah, Nabi bersabda dihadapan Jubair bin Mu’thim dan sahabat yang lain.

“Hampir-hampir bangsa Yaman melebihi kalian. Mereka bak segumpal awan. Mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi.”

(HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Al-Baihaqi)

Di hadist lain, Rasulullah SAW juga bersabda,

Sesungguhnya akan datang kaum, yang kalian akan merasa minder jika membandingkan amalan kalian dengan amalan mereka“.

Apakah mereka kaum dari kaum Quraisy ya Rasulullah?” Tanya para Sahabat.

Bukan, mereka adalah penduduk Yaman.” (HR. Ibnu Abi Ashim)

Tak hanya itu, Nabi juga mendoakan negeri yaman,

اللهم بارك لنا في شامنا اللهم بارك لنا في يمننا

Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam kami. Ya Allah… berkahilah kami pada negeri Yaman kami” (HR. Bukhori dan Ahmad)

Bukan hanya di Dunia, di Akhirat pun Rasulullah mengistimewakan mereka. Dari sahabat Tsauban berkata, Rasulullah SAW bersabda,

Sesungguhnya kelak aku akan berada di samping telagaku. Kemudian Aku akan menghalangi orang-orang yang akan meminum dari telagaku, agar penduduk Yaman dapat meminumnya terlebih dahulu. Aku memukul dengan tongkatku, sehingga air telaga tersebut mengalir untuk mereka.” (HR. Muslim).

Setiap hadist-hadist ini, tentu tidak berlaku pada satu kurun waktu tertentu. Itu menjadi pedoman untuk masa selanjutnya. Keberkahannya ada di zaman fitnah ini. Keberkahan juga hadir hingga kejayaan islam nanti menjelang kiamat.

Alhamdulillah, kami di Banda Aceh masih diberikan kesempatan belajar banyak dengan Masyaikh dan habaib dari sana.

Kali ini kedatangan syaikh Samih AlKuhali dari Aden, Hadramaut, murid dari Habib Abu bakar Al Adni bin Ali Al Masyhur.

Isi materinya diterjemahkan oleh Habib Alwi Shahab dari Jakarta. Juga kedatangan Habibana Jindan bin Novel, pimpinan Al Fachriyyah, Tangerang. murid Habib Umar Al Hafidz.

Materinya terkait fenomena akhir zaman. Dimana pada zaman ini iblis mulai putus asa jika berharap manusia masuk neraka dengan cara sujud menyembahnya.

Namun iblis yang tak pernah diam, tidak pernah tidur dan tidak pernah lelah, maka tetap membuat manusia ke neraka, dengan cara mengadu domba, saling mencaci maki, saling membenci hingga bunuh membunuh.

Memahami perkara ini, dasarnya harus memahami haq dan bathil. Lalu fenomena dipandang dari kacamata pertengahan. Menimbang permasalahan secara adil. Melihat kondisi dari berbagai sudut pandang.

Saat syaitan memainkan propagandanya. Harusnya kita sadar, untuk terus mempertahankan ukhuwah.

Jika diantara muslim terdapat perbedaan. Saat yang sama pula kita perlu belajar menghubungkan simpul-simpul persamaan.

Jika mengambil perkataan Ustad Abdul Somad, terkait perkara-perkara yang berbeda, mari berlapang dada. Dalam persamaan, mari kita bekerja sama.

Dengan tujuannya berdakwah, menyeru lingkungan sekitar kita lebih dekat dengan Allah SAW dan mencintai UtusanNya.

Jazakallahu khairan.

Leave a Reply