Hati yang bercahaya

الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Begitulah kata Imam Al waki’, kepada muridnya Imam Syafii. Bahwa Ilmu itu Cahaya, cahaya itu tidak akan menerangi bagi orang bermaksiat.

Jika hati diibaratkan sebuah ruangan, dan ilmu adalah cahaya, ruangan yang dipenuhi cahaya berbeda kondisinya dengan ruangan yang dipenuhi barang-barang.

Ruangan yang sudah dipenuhi satu cahaya, masih bisa diterangi cahaya-cahaya lain. Misalnya cahaya sebelumnya adalah putih, kita bisa menerangi ruangan tersebut dengan cahaya hijau, merah, dan sebagainya. Seperti tanpa batas.

Sementara ruangan yang dipenuhi barang-barang. sifatnya terbatas. Jika hanya bisa memuat 100 karung beras, maka ruangan tersebut tidak bisa dipaksakan satu karung lagi. jika dibutuhkan harus tambah satu ruangan lagi.

Hati yang kotor dan penuh dosa, biasanya akan menimbulkan dua kemungkinan. Pertama dosa tersebut menutup cahaya untuk masuk. Kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, bahwa satu dosa itu menimbulkan satu titik hitam di hati. semakin banyak dosa semakin banyak titik hingga menutupi hati, bahkan hingga mengeraskan hati. Hidayah pun sulit masuk.

Dalam setiap perkara atau masalah, Allah menyertai hal yang menjerumus ke dosa dan Allah datangkan hidayah sekaligus. contoh kecil saat azan berkumandang, orang yang tertutupi hatinya cenderung mengungkapkan “Ah nanti saja Shalatnya.” sementara bagi hatinya yang penuh keimananakan menyambut panggilan ini.

Pun saat mengerjakan hal buruk, ada keraguan dan ketidaknyamanan dalam hati kita. Bisikan ‘jangan lakukan’ ini datang dari sisi Allah. Namun bisa jadi karena hati yang tertutup, cenderung mengabaikannya.

Kemungkinan yang kedua adalah dosa tersebut menjadi penyakit dan melekat di dalam hati. Saat cahaya memasuki ruang hati, yang terpantul adalah penyakit dan yang terkesan adalah keburukan oarng lain.

Sebuah contoh bagi diri kita masing-masing, saat baru belajar tentang hukum agama atau mendapat nasehat. jika kondisi hati yang kotor, penilaian hukum mudah sekali ditujukan untuk orang lain, mudah menghakimi. Dosa orang lain mudah terlihat. Sementara pribadinya merasa lebih suci karena lebih banyak tahu. Na’uzubillah. Padahal setiap nasehat, utamanya untuk diri sendiri terlebih dulu.

Imam Malik juga menasehati “Ilmu itu bukanlah banyaknya riwayat, melainkan cahaya yang diletakkan Allah dalam hati.

Manusia bisa melihat bukan sekedar karena dia punya mata, tapi juga karena adanya cahaya. Siapa pun bisa mendapatkannya, selama hati tidak tertutup. Cahaya itu bersifat menerangi. orang yang telah diterangi pun bisa berbagi cahayanya.

Leave a Reply