Ruang, yang terbentang jauh tanpa diketahui dimana ujungnya. Disana terdapat bumi, bulan, matahari, bintang-bintang hingga gugus galaksi yang tergantung pada ruang. Tak ada cerita dan tak ada yang mengabarkan, dimana batas ruang ini.

Begitulah maha karya Allah, Sang Pencipta mampu mencipta sesuatu tanpa contoh sebelumnya. keberadaanNya tak butuh ruang ini. Qiyamuhu binafsih. berdiri dengan sendirinya, Independen. karena ruang adalah ciptaanNya.

Bagi Allah, sangat mudah memperlihatkan relativitas waktu pada perjalanan Isra Mi’raj Rasul. Allah memperlihatkan kecepatan buraq melebihi jutaan tahun perjalanan cahaya. Allah perlihatkan kejadian dimasa depan, keadaan dunia, surga, neraka, serta bertemu dengan para Nabi terdahulu.

Allah juga menunjukkan hebatnya perjalanan malaikat, tujuh puluh ribu tahun perjalanan hanya membutuhkan waktu sehari. Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Serta membuat kehidupan Akhirat abadi, kehidupan dunia hanya singgahan.

Ruang dan Waktu memperlihatkan betapa agungnya Allah. Dan hakikat keberadaan zat Allah tak membutuhkan kedua ini. Karena kedua ini adalah makhluk, hasil ciptaanNya. Kata Sayyidina Ali كرم الله وجهه, “Allah itu sudah ada sebelum ketiadaan ada.”

Demikian pula benda-benda pengisi alam ini. Para ahli Tauhid menyebutnya jism. Ia tersusun dengan bagian-bagian kecil seperti manusia memiliki kepala, tangan dan kaki. Seperti bumi yang memiliki tanah, air dan penghuni di dalamnya.

Wujud jism ini membutuhkan tempat, dan berada dalam rentetan waktu. Dan jism tersebut memiliki aktivitas layaknya diam, bergerak atau berubah. Juga menyertakan sifat-sifat yang menjadi hukum alam pada benda tersebut. Seperti panas, dingin, kuat, lemah dan sifat lain.

Contoh mudah jism, misalnya kopi. Kopi dimana, Kopi kapan, Rasanya? Dengan gampang menjawab.. Itu kopi pagi. Ada diatas meja, Sedikit pahit, sekarang sudah dingin.

Dan wujud zat Allah, suci dari yang perwujudan makhluk. Maka tak layak jika menyebutkan Allah berkaki, bertangan, dan berwajah. Karena secara otomatis akan menyerupai Zat-Nya yang suci dengan sesuatu yang ada di alam ini. Laisa kamistlihi syai-un, Allah tidak menyerupai akan sesuatu pun.

Allah juga bukan sifat. bukanlah kekuatan, bukan cahaya atau terang, bukan juga ketenangan atau kepintaran. Karena semua sifat pada benda adalah ciptaanNya. Kekuatan yang kita miliki adalah anugerah Allah. kepintaran, kebijaksanaan juga karena petunjuk dari Allah SWT.

Sifat makhluk selalu bergantung kepada-Nya. Hari ini kita merasa kuat. namun kuat itu hanya sementara. karena Allah yang menguatkan. Allah bersifat Maha Kuat, itu abadi. segala kekuatan datang dari Allah pemilik sekalian alam.

Lalu otak kita membayangkan tentang zat-Nya, apa yang kita temukan ketika membayangkan zat Allah?

Hitam, random, kosong. Imaginasi yang kita bayangkan, itu juga makhluk. Atau sesuatu yang berukuran datang ke kepala kita. seperti sesuatu yang besar kecil, luas sempit, tinggi pendek, banyak sedikit. itu juga makhluk.

Sungguh Allah suci dari khayalan dan Allah suci dari ukuran. Sehingga salah besar jika sesuatu yang dalam otak kita, terdapat bayangan, lalu kita yakini bahwa itu Allah.

Lalu yang bagaimana juga!!

Otak kita merasa kesulitan dalam memikirkannya.

Ini lah tanda betapa lemah dan fananya kita sebagai manusia, makhluk Allah. Karena memang tak mampu untuk dipikirkan. Memikirkan bagaimana kita tumbuh, fase hidup, serta memikirkan masalah-masalah saja sering tak mampu. Yang sudah diciptakan saja juga tak mampu. Apalagi tentang zat Allah.

Allah meminta kita untuk memikirkan ciptaanNya. Dan melarang memikirkan tentang zat Allah.

لَيْسَ كَمِثْـلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

(Allah SWT) tiada seperti seumpama ‘SESUATU’ apa pun dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

(QS. Asyuura: 11)

Dialah Allah yang bersifat Ahad. Segala hal di alam ini bergantung pada-Nya. Tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada yang setara denganNya.

Kira-kira, begitulah yang diajarkan oleh Syeikh Abu Hasan Al-Asy’ari Rahimahullah ta’ala, dalam kitab Aqidatun Najin susunan Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad Al-Fathani. serta Imam Al-Ghazali dalam bab tauhidnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *