Puasa Sosial Media

Saya rasa sudah cukup mata ini menatap layar kaca. Kekuatan mata lebih tua dari usianya. Silindris dan Minusnya bertambah.

Waktu banyak tersita sia-sia. harusnya bisa lebih banyak bersama keluarga, ikut pengajian dan beramal.

Belum lagi tentang isu, konten, berita, dan komentar yang tak sehat lagi untuk dikonsumsi. Distraksi satu berita dengan berita yang lain, dapat melemahkan daya konsentrasi. Kalau kata para ikhwan, ’syubhatnya sudah kebangetan.’

So, saya memutuskan untuk menjauh dari sosial media.

Terinspirasi oleh mas Fikry Fatullah, CEO kirim.email. Beliau membuat riset seberapa banyak waktu terbuang hanya gara-gara gadget. Dan sesuai dengan hipotesisnya, dua pertiga waktunya sia-sia hanya karena gadget. Sudah tak wajar dan melampaui batas.

Untuk mengatasinya, beliau menghapus semua aplikasi yang tidak perlu. Membuat tampilan hapenya, seperti hape baru. Tidak ada apps macam-macam. Meng-uninstall semua apps yang tidak dipakai. Yang tersisa hanya apps bawaan yang tidak bisa diapa-apain dan aplikasi yang sedang dipakai saat itu.

Saran darinya, untuk membuat candu itu hilang. Buatlah jadi membosankan. Dengan tampilan dan fitur jelek, otomatis dibuat malas pemakainya.

Insight Yang kedua saya dapatkan dari channel Youtube nya Presenter Marrisa Anita: On Marrisa’s Mind, Puasa Sosial Media

Ia membuat metode, puasa dari sosial media. Artinya, pengguna akan beristirahat dari sosial media pada waktu yang kita tentukan. Setelah metode tersebut berhasil, banyak waktu ia manfaatkan untuk belajar dan pengembangan diri.

Saya pun mencoba menggabungkan kedua metode mereka. Ibarat berpuasa yang sesungguhnya. Ada waktu niat dan mempersiapkan puasa, puasa tersebut berlangsung, dan berbuka.

Saat persiapan pastikan sosial media dihapus semua. Yang tinggal hanya keperluan pribadi, Telepon, SMS, jam dan catatan; keperluan kantor yang dipakai dalam hari itu, Email dan WA (jika bisa, WA yang tak ada story nya); serta apps bawaan yang tak bisa dihapus.

Saat berpuasa berlangsung, akan ada godaan besar datang yang bisa membatalkannya. Puasa di minggu pertama akan terasa gatal pengen buka ini itu. Ingin update-an dari yang pernah akun yg kita follow. Ingin menghabiskan story yang ada.

Tugas kita, Menahan rasa itu. muncul lagi keinginan, macam ada nafsunya. Tahan lagi.

Disinilah saya isi dengan kegiatan yang bermanfaat. Saya mengalihkan dengan membaca buku. Melatih menulis, Merutinkan tilawah, dan ajak berbicara orang sekitar, dan menghabiskan waktu dengan keluarga.

Demikian pula seterusnya hingga terasa waktu saya sangat berguna dan bermanfaat.

Metode ini saya anggap berhasil, jika sudah mencapai titik dimana saya bisa mengendalikan kapan buka gadget, kapan tidak. Bukan dikendalikan olehnya.

Lalu, berbukanya kapan?

Buka puasa cukup karena dua hal. Pertama, pada saat berbagi ilmu, sharing informasi yang penting dan bermanfaat.

Agar lebih efektif dalam sharing informasi, persiapkan kontennya terlebih dulu, Lalu download aplikasinya, baru posting.

Jika lebih dulu download apps tapi belum menyiapkan konten, Anda akan kembali tenggelam dengan sosmed tersebut. Apalagi sudah lama tidak buka. Bisa lebih liar dari sebelumnya.

Pesan untuk pembuat konten, luang waktu khusus untuk memposting. Misalnya waktu publish atau upload dikhususkan sabtu sore. Maka kontennya sudah dipersiapkan di hari sebelumnya.

Sediakan waktu juga untuk membalas komentar audience, atau hanya sekedar menyapa selama dua jam. Siapkan waktu juga untuk tracking dan promosi konten, agar konten tersebut sampai pada segmennya. Disiplin dalam mengatur waktu disini sangat penting.

Berbuka yang kedua, gunakan internet seperti zaman dulu, buka hanya saat perlu. Anda butuh materi atau referensi, buka browsing, lalu salin di buku atau salin di word. Tutup kembali.

Penggunaan sosial media selebihnya, saya anggap tidak penting.

Harapan metode ini diterapkan adalah saya dan keluarga, terhindar dari kecanduan gadget.

Saat steve Jobs pertama kali launching iPhone, Ia mengatakan, “It isn’t tool, it is you.” Perusahaan lain pun berlomba-lomba membuat produk yang menjiwai seperti itu.

Menurut saya, gadget itu sama dengan nafsu, selalu nagih dan candu. Butuh mujahadah, proses melawan dan menjinakkan, untuk mengendalikannya. Bukan dikendalikan olehnya.

Dengan begini, saya lebih menikmati dan mensyukuri dunia yang sesungguhnya, untuk akhirat.

Saya juga ingin menanam kepada anak-anak. Gadget iu bukan mainan apalagi tontonan, itu hanya alat untuk bekerja.

Di tengah era yang selalu terkoneksi kemana-mana, kita butuh koneksi terpusat, koneksi khusus antara dirimu dan Pencipta mu.

Jika ada Notifikasi, atau teman minta membuka sosmed, katakan saja.. “Inni Saaimun. Saya sedang berpuasa.”

Mau coba?

Leave a Reply