Siapa Yang Takut

Duduk dengan ulama selalu memberi titik terang bagi jiwa. Kegelisahan saya adalah bagaimana cara berdakwah kepada orang bebal. Yang tak merasa salah dengan kesalahannya, serta bangga dan hebat dengan satu kebaikannnya.

Tanpa sempat saya bertanya, Abi lampisang malam itu membahas tentang apa yang ditakutkan dan apa yang dibanggakan.

Jika kita membaca sejarah, atau menelaah sebuah konflik. Selalu mengulang pola yang sama. Siapa yang pemberani, dan siapa yang panik atau takut.

Yang kita lihat era sekarang, penjahat perang selalu bekerja lebih ekstra. Memperlihatkan bahwa mereka bermental juara. Dengan mudahnya mereka merampok harta orang lain, mencaplok wilayah, menjajah negara dari berbagai sisi.

Apa yang sebenarnya terjadi..

Padahal umat Islam punya sejarah agung. Jumlah sedikit mampu mengalahkan pasukan besar. Kemenangan mulai badar, hingga pembebasan wilayah di zaman kekhalifahan. Jumlah kecil menumbangkan kerajaan besar.

Hakikat yang sebenarnya terjadi, Allah telah berfirman

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً

Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (QS.al-Isra :81)

Abi lampisang menjelaskan bahwa Allah telah menanamkan rasa takut di hati mereka, para pembuat kebatilan.

Sejatinya para pezalim takut dengan yang berbuat adil. Kebatilan takut dengan kebenaran. Munafik takut dengan orang mukmin. Maling akan takut dengan pemilik rumah.

Jika maling, munafik, orang batil, dan pezalim tak memiliki rasa takut, mengapa mereka harus bekerja dalam kesembunyian, menyimpan rahasia, dan mengatur siasat.

Jadi, Cara kerja mereka adalah paranoid, hasil dari kepanikan. Mereka bekerja lebih ekstra, memasang tampang seolah-olah mereka lah yang jawara. Padahal terpendam rasa ketakutan.

Lalu, kita sendiri mengapa keadaan sekarang seolah berbalik. Tuan rumah yang takut maling.

Alasan yang pertama, mungkin kita kehilangan rasa takut kepada Allah, mulai takut kehilangan harta dan popularitas.

Lalu kurang bangga dengan keimanan. Kebanggaan iman tercermin dari keistiqamahan dalam beramal.

Bisa jadi kita tak merawat hubungan kita dengan Allah. Kurang berzikir dan muhasabah. Doa seadanya, mulut mengucap doa.. hati dan pikiran jalan-jalan. Seperti para pemabuk. Pikiran dan ucapan tidak sinkron.

Kemenangan para sahabat dan umat setelahnya bukan pada jumlah. Tapi karena kualitas iman, Allah menolong para hambaNya, dan menanam rasa takut di pihak musuh.

“Sami’na wa ata’na.” Adalah ungkapan para sahabat karena keimanan dan Ketakutan pada Allah.

Alasan yang kedua, mungkin Kita enggan berada di jalan yang benar. Menganggap jalan ini kurang bonafit. Atau merasa sendirian disini.

Padahal Allah telah berjanji

“…اِنۡ تَنۡصُرُوا اللّٰہَ یَنۡصُرۡکُمۡ وَ یُثَبِّتۡ اَقۡدَامَکُمۡ…”

“Jika mau menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Alasan ketiga, Tidak disiplin.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra mengatakan,
“Kezaliman yang tersusun rapi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak rapi.”

Disiplin adalah termasuk dalam katagori ini.
Tak perlu bercerita tentang pasukan besar, instropeksi diri saja dulu. Shalat sering entar dulu aja. Saat ada orang yang rajin dan gercep, kita ejekin. Pragmatis dalam beragama, bekerja seadanya.

Saat masalah datang, kebablakan jadinya.

Jika 3 poin ini masih ada. Wajar sikap ketakutan berbalik arah. kita tidak pelihara iman, dan jauh dari Allah.

Semoga Allah SWT memberkahi kita semua.

Leave a Reply