3 hal yang terabaikan di keluarga saya

Alhamdulillah bahtera kehidupan keluarga baru beranjak dua tahun. Saya menikah di 17 September 2017. Sudah dikaruniai seorang putri.

Tak ada yang sempurna yang dijalani oleh pembelajar ini. Sejak kata ‘sah’ terdengar dari para saksi. Dalam menjalani amanah ini butuh banyak nasehat dan perenungan.

Sengaja saya tulis ini sebagai catatan. Karena 3 poin ini adalah bagian inti dalam berkeluarga.. Sayangnya, sempat saya abaikan.

Menyamakan visi dan misi hidup.

Saya dengan istri memiliki background berbeda. Karakter berbeda, jenis kelamin berbeda 😀

Dulu saya berasumsi bahwa visi kami sama. Sehingga tak perlu mendeklarasikan dengan jelas, “Kenapa harus menikah dengan saya? Setelah menikah mau apa dan kemana..”

Ini menjadi penting disaat masalah, ujian, dan godaan datang menghampiri.

Misalnya kekurangan finansial, hutang menumpuk. Hijrah ke tempat lain karena pekerjaan dan pendidikan, atau harus LDR untuk sementara waktu.

Karena bisa jadi pasangan kita tidak siap menerima risiko dari keputusan kita.

Mengenai visi, itu ibarat gambaran di kepala. Tapi belum dituangkan di atas kanvas.

Menyamakan visi itu menceritakan gambarannya. Harus ditransfer, digambarkan di kepala penerima.

Si penerima harus tergambar jelas di kepalanya. Jika gambar itu mulai memudar, kita harus mengingatkan.

Misalnya sebagai keluarga muslim pada umumnya, saya membuat visi sebagai Keluarga yang mengharap Ridha Allah, mendapatkan cinta dari Nabi ﷺ dan menciptakan kebahagiaan ‘fiddunya wal akhirah’.

Visi ini tak bisa diwujudkan jika banyak berleha-leha, mengejar kesenangan semu. tak diisi dengan ilmu.

Jika kita menyatakan keluarga kita adalah pecinta Nabi ﷺ . Namun minum air masih pakai tangan kiri sambil berdiri. Mulut sering keluar kata dan nada yang melekitkan hati.

Beli barang masih pakai harga teman. Setiap dimintai sumbangan, dibalasnya dengan ‘Senyuman juga jadi sedekah’. Demikian itu sudah jauh dari risalah Nabi ﷺ.

Salah satu menggapai Ridha Allah SWT adalah dengan…

“…اِنۡ تَنۡصُرُوا اللّٰہَ یَنۡصُرۡکُمۡ وَ یُثَبِّتۡ اَقۡدَامَکُمۡ…”

“Jika mau menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Para ulama menafsirkan menolong agama Allah adalah mengagungkan Allah dengan cara mematuhi perintahnya, mensyiarkan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Dalam konteks keluarga, kita tanamkan kepada keluarga terkait adab, ilmu, amal dan dakwah. Penuhi dan hiasi berkeluarga dengan syariat Islam. Insyaallah, Allah pun senantiasa menolong hambanya, melapangkan setiap urusan.

Penggambaran visi ini yang terlewatkan di keluarga saya. Terlewatkan untuk menyampaikan. Terlewatkan untuk memastikan visi ini sudah sama. Sepele memang. Tapi harus disampaikan.

Karena enyamaan visi ini menjadi komitmen nantinya. Dalam membangun dan mendidik keluarga harus fokus, terprogram, terencana dan terukur.

Jika terdapat hal yang tak sesuai dengan nilai keislaman, langsung tidak dibolehkan dan diganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Adanya visi, secara otomatis akan mengurangi hal yang sia-sia, hal yang tak penting.

Adapun misi adalah cara untuk membentuk gambar dikanvas, tools dan warna apa saja yang dipakai untuk membentuk gambar di kanvas.

Bisa beda-beda tiap orang, tergantung posisi dan skillnya.

Misalnya seorang kepala keluarga sekaligus tulang punggung keluarga, wajib memastikan yang dikonsumsi keluarga adalah harta halalan tayyiban.

Seorang ibu juga berperan sebagai pendamping dan pendidik di rumah, memastikan yang ditonton dan ditiru oleh anak-anak adalah yang diridhai Allah taala.

Dengan visi, kita menyatukan pikiran. Karena misi, kita bekerja sama.

 

Selalu komunikasi

Bangun komunikasi yang positif dan menenangkan. Termasuk saat mengambil keputusan, seringnya saya putuskan dulu. Tanpa membicarakan lebih dalam dengan pasangan.

Karena dalam pikiran, bisa jadi istri tidak mengerti. Jadi mending tidak usah dibicarakan dulu.

Mungkin akan mudah ia pahami saat moment itu tiba, ia ikut merasakan.

Karena persepsi ini, sering kali miskomunikasi antara kami berdua. muncul praduga yang tak mengenakkan. Sehingga komunikasi antara kami terkesan pasif. Terutama dalam hal perencanaan dan risiko.

Sebenarnya ada yang yang baik untuk disampaikan, ada juga yang tidak perlu. Jika mendatangkan kebaikan, lebih baik dikomunikasikan.

Misalnya tentang lingkungan pekerjaan, atau ada sebuah peristiwa, kita cerita saja sedikit poin apa yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Komunikasi hal-hal kecil dalam mengelola leluarga, hingga yang paling penting, hutang piutang dan wasiat. Kudu disampaikan.

Yang perlu dihindari adalah membawa kabar rumah tangga orang lain dalam keluarga kita.

Mulai dari membicarakan perabot rumahnya, mobil yang dipakai, privasi orang. Apalagi kekurangan dan aib. Na’uzubillah.

Kecuali untuk menolong dan mengambil pelajaran. Itu pun harus sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Tanpa disadari, mudah saja membicarakan rumah tangga orang lain.

Dulu Siti Aisyah ra, menceritakan rasul begini dan begitu tentang siti Shafiyah (bermaksud merendahkan karena rasa cemburu dengan madunya).

Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh kata-katamu jika dicampuri dengan lautan, maka akan berubah semua warnanya.“

Dari redaksi lain, “Sungguh dirimu telah mengucapkan sebuah kalimat yang sekiranya dihapus dengan air laut tidak akan sanggup menghapusnya.”

Pernah juga suatu ketika siti Aisyah ra. Menceritakan seseorang di hadapan rasul ﷺ . Lalu beliau menjawab

قال: ما أحب أني حكيت إنسانا وأن لي كذا وكذا.

Aku tidak suka aku menceritakan tentang orang lain pada diriku begini dan begitu.” (HR. Abu Dawud no. 4875 dan at-Tirmidzi no. 2520).

Jadi, lebih baik banyak komunikasinya tentang introspeksi diri dan keluarga kita dengan ilmu.

Fastabiqul khairat, internal competition.

Saya merasa level khidmat saya dalam keluarga baru sebatas menyelesaikan kewajiban.

Karena diluar kewajiban mengurusi keluarga, sebagai lelaki banyak kewajiban yang lain.

Tersadar poin ini terlewatkan saat menonton video di channelnya Faldo Maldini: Nikah Gak Menghalangi Cita-cita.

Salah satu motivasi Refi Adriade -yang diwawancarai faldo, adalah fastabiqul Khairat, kompetisi internal. Antara ia dengan istri.

Saat istrinya mampu menyelesaikan S2 di luar negeri, ia juga ingin menyelesaikannya.

Istri merutinkan Dhuha, tahajjud, tilawah, dan kebaikan yang lain. Maka amalan istri adalah pemicu untuknya.

Ada hal yang diingatkan suami oleh istrinya, suami juga  saling mengingatkan untuk istri.

Pun sebaliknya, saat ia banyak aktivitas yang menginspirasi orang. Istrinya mencoba memantaskan.

Ternyata memantaskan itu bukan hanya sebelum nikah. setelah nikah sebenarnya jauh lebih penting. Banyak yang lupa perkara ini, termasuk saya.

Takutnya setelah nikah bisa jadi mulai jalan dengan pemikiran masing-masing. Padahal salah satu tujuan berkeluarga adalah saling support dan saling menjaga.

“Mereka (para istri) pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…” (QS. Al Baqarah : 187 ) 

Termasuk yang perlu dilombakan dengan pasangan adalah saling pengertian dan siapa yang paling romantis. Mau coba?


 

Mudah-mudah Allah memelihara rumah tangga kita. Menjadi keluarga Sakinah Mawaddah warahmah, dan langgeng hingga ke Surga. Amiin.

Sebenarnya saya sudah melakukan secuil dari ketiga poin ini. Namun mulai memudar. Dan poin itu terus kita butuhkan dan ingatkan selama membangun rumah tangga, hingga akhir hayat.

Maka dari itu, Saya tuliskan ini sebagai pengingat pribadi.

 

Kautsar, 17 September 2019

 

Leave a Reply